Rakyat di makan rakyat
Suatu ketika rakyat Indonesia merindukan rasa kemakmuran yang nyata pasti akan di proleh di atas tangannya, dengan sekuat tenaga para professor mencari formula dahsayat itu, dengan menguras otak profesorpun berhasil menemukannya sebuah formula keadilan untuk generasi muda (siswa) pewaris ilmu dan masa depan bangsa Indonesia. Formula itu bernama BOS (Bantuan Oprasional Sekolah) dari formula itu diharapkan siswa tidak perlu lagi mengeluarkan rupiah dari kocek orang tuanya. Untuk sebuah pendidikan dari bangsa yang beradab.
Formulapun menjadi menyebar dan menjadi harapan nyata bagi rakyatnya, berat beban di pundak orang tua sedikit di tangung Negara, ini sebuah kemajuan fantastis dari mimpi yang terbeli.
Suatu ketika di suatu tempat, seorang pria kurus dan lusuh, itu banting tulang demi dapur yang musti ngebul. ‘udah tiga rit buat setoran blm dapet, pada kemana yak sewanya’ keluh pria sopir angkot. Tak lama perempuan dan 2 orang anak yan masih kecil usia 7 tahun dan 4 tahun memberhentikan anngkot itu. Perempuan yang mengunakan daster itu naik ke dalam angkot.
Jarum jam terus berputar menunjuk angka 19.30 malam jalan – jalan yang sama telah di lewati sang sopir bersama angkotnya namun sewa tetap sepi, angkot itu hanya berisi 5 penumpang, namun yang bersatus penumpang resmi adalah 2 orang pria muda sisanya adalah perempuan dan 2 anaknya itu yang tidak lain adalah istri dari sopir angkot.
Kehangatan dan kasih sayang sang ayah menyapa anak-anaknya dan istri yang setia menjemput suaminya tergambar abstrak di wajah mereka. Keluhan yang dirasakan sang sopir sedikit samar ditutup keriangan anak-anaknya. Malam terus berlanjut dan emperan toko berubah fungsi menjadi karpet tidur anak jalanan, grobak butut berisi kardus dan barang rongsokan yang parkir di depan toko alat-alat tulis. Angkot terus melaju melintasi pingiran kota yang mulai sepi.
Hingga pada suatu ketika perempuan itu berkata pada anaknya ‘udah cepet katanya mau laporan kusus’ canda ibu pada anak dan suaminya, sang suamipun menjawab ‘mau laporan apa nak’ Tanya sopir itu pada anaknya yang sesekali menegok ke belakang melihat anaknya, angkot merah itu masih terus melaju desiran angin malam menyibak rambut tipis sang anak. ‘Pak minta duit lima ribu buat bayar rapot, besok di sekolah’ kata sang anak. ‘O… besok ambil rapot ya udah besok bapak ambil’ jawab si sopir angkot. ‘ambil rapotnya bukan besok tapi sabtu’ jawab sang anak. O.. ya udah entar bapak kasih !’
Lagi-lagi formula professor gagal mematahkan statisik kemiskinan rakyatnya, formula BOS yang dipikir bagus teryata di bakar oleh rakyatnya sendiri BOS tidak berlaku di rimba rakyat, itulah Indonesia rakyat memakan rakyat.
Depok,2006
korban iklan…..
jeruk makan jeruk…